Kamis, 26 Maret 2009

teologi salib injil Yohanes

Dialah murid, yang memberikan kesaksian tentang semuanya ini,
dan yang telah menuliskannya, dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.
Yohanes 21:24

Selain itu, kalau kita mengacu pada Yoh 7:38-39 seperti sudah disinggung di atas,
saat penyaliban Yesus adalah saat pemuliaan sehingga Dia bisa menyerahkan Roh-Nya!
( V. Indra Sanjaya, hal 128)

Paham mengenai gambaran ideal kemuridan dan teologi salib menurut Yohanes dikupas dalam buku Yesus, Orang Nazaret, Raja Orang Yahudi dengan cukup menarik, mudah dipahami dan inspiratif. Saya sangat menikmati bacaan tersebut terutama karena gaya bahasa yang sederhana dan enak dibaca untuk sebuah buku yang mengupas Injil Yohanes. Selain karena tugas kuliah, saya merasa bahwa pendalaman pada tema kemuridan dan teologi salib membuka suatu cakrawala baru bagi saya. Oleh karena itu, saya akan mencoba mendalami dua tema tersebut dengan sedikit sistematis dan kritis sehingga menjadi kekayaan khazanah pemahaman sidang pembaca.

Murid yang Dikasihi: Murid yang Ideal
Begitu mendengar kata murid-murid Yesus, tentu dengan seketika perhatian kita akan berfokus pada Simon Petrus dan murid-murid yang lain. Dengan mudah kita akan memberikan penilaian bahwa merekalah murid-murid Yesus yang asli. Tentu kita pun akan dengan mudah memberikan sebuah referensi bahwa merekalah murid-murid yang ideal. Benarkah demikian? Yohanes Penginjil ternyata mempunyai kriteria lain berkaitan dengan murid yang ideal. Yohanes menampilkan sosok misterius yaitu murid yang dikasihi Yesus. Identitas tersebut tetaplah misterius. Yohanes juga tidak menyebutkan identitas murid yang dikasihi-Nya dengan terbuka. Memang Yohanes menempatkan murid yang dikasihi-Nya dengan Petrus (bdk: Yoh 13:23-24, Yoh18:15-18, Yoh 19:26-27, Yoh 20:2-10, Yoh 21,7 dan Yoh 21: 20-23).[1] Romo Indra mencatat bahwa murid yang dikasihi inilah yang menjadi saksi otoritatif komunitas Yohanes. Dia merupakan saksi istimewa akan peristiwa salib.
Untuk itu, kiranya kita dapat mencoba meneliti lebih jauh mengenai ciri-ciri kemuridan yang ideal. Murid Yesus yang ideal menurut Yohanes mempunyai beberapa kriteria[2] antara lain: mengikuti Yesus sampai ke kaki salib (bdk. hlm 104) , bukan dari dunia ini (bdk hlm105), pengganti Yesus yang wafat (bdk hlm. 107), mempunyai hubungan spiritual, bukan hanya karena hubungan darah (bdk hlm. 108), memperkenalkan /membawa orang kepada Yesus (28). Untuk lebih memperdalam kiranya, kita perlu merumuskan dalam 3 ciri utama murid Yesus yang ideal, yaitu:
Pertama, seorang murid yang ideal adalah mengikuti Yesus sampai ke kaki salib. Memang untuk mencapai tujuan tersebut banyak ujian yang harus dialami oleh murid Yesus. Sebagai contoh, Petrus yang dalam arti tertentu gagal untuk sampai ke salib Yesus karena menyembunyikan identitas kemuridannya di hadapan penjaga. Justeru murid yang lain –yang dikenal oleh Imam Besar- berhasil sampai di bawah kaki Salib Yesus. Setelah murid itu bersama dengan Simon Petrus (Yoh 18:15-16), ia merupakan satu-satunya murid lelaki yang sampai ke kaki salib. Menurut Yoh 19:33, dia merupakan saksi mata dari peristiwa penyaliban tersebut. (bdk hlm 104)
Kedua, murid yang ideal adalah pengganti Yesus yang wafat. Dalam konteks relasi Ibu Yesus dengan murid, Ibu Yesus disejajarkan dengan Hawa, yang menjadi ibu semua yang hidup (Kej 3:20). Kini dengan menerima murid yang dikasihi, Ibu Yesus menjadi ibu semua murid Yesus, yang memberikan hidup kekal pada mereka. Murid yang dikasihi Yesus lalu menjadi pengganti Yesus yang segera akan wafat seperti yang dikatakan Hawa dalam Kej 4:25 ,” Allah telah mengaruniakan kepadaku anak lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya.” (bdk hlm. 105). Dengan demikian ditegaskan pula bahwa murid yang ideal tidak berasal dari dunia ini. (Yoh 17,14).
Ketiga, murid Yesus yang ideal mempunyai relasi iman dengan Yesus sendiri. Relasi kemuridan tidak pertama-tama berupa ikatan darah melainkan ikatan spiritual dan ketaatan kepada kehendak Allah (bdk Mark 3:31-35, Mat 12:46-50 dan Luk 8:19-21). Melalui kata-kata terakhir Yesus, Ibu Yesus yang mewakili hubungan darah diterima dalam kelompok yang menekankan hubungan spiritual dengan Yesus, yang diwakili oleh murid yang dikasihi Tuhan. Dengan demikian dibuka kemungkinan bahwa mereka yang berada dalam garis hubungan darah dengan Yesus menjadi kelompok yang dicirikan hubungan rohani (kelompok murid-murid Yesus). Hal ini misalnya terjadi pada diri Yosef Arimatea dan Nikodemus.

Murid yang Dikasihi Versus 12 Rasul
Menurut Romo Indra, murid yang dikasihi adalah tokoh utama komunitas Yohanes. Memang dalam Injil Yohanes, kita menemukan persaingan terselubung antara murid yang dikasihi dengan Petrus yang merupakan jagonya komunitas kristen yang utama. Menurut Yohanes, murid yang dikasihi selalu menang. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa juga dalam menerima Roh Yesus, murid yang dikasihi mendapatkan prioritas. Baru nanti sesudah kebangkitan, Yesus menghembuskan RohNya pada para murid (kelompok 12) yang berkumpul di suatu tempat yang pintu-pintunya terkunci. (lihat hlm 129). Murid yang ideal menurut Yohanes, adalah murid yang hadir di bawah kaki salib. Oleh karena itu kemuridan Yesus mempunyai konteks dalam peristiwa penyaliban. Bagaimana ini dapat dipahami? Tentu kita akan mencoba menelaah makna salib dalam teologi Yohanes, sehingga kita dapat melihat bagaimana kemuridan dalam Yohanes mempunyai suatu konteks yang baru.


Teologi Salib: Penyaliban sebagai Pemuliaan
Setiap orang akan memandang bahwa peristiwa penyaliban sebagai suatu penderitaan dan kegagalan. Namun demikian Yohanes mempunyai pemikiran teologis yang berbeda. Penyaliban Yesus Kristus menurut Yohanes adalah pemuliaanNya. Bagaimana gagasan teologi salib Yohanes ini dipahami?
Menurut Romo Indra, sejak dari permulaan, Yohanes menampilkan Yesus sebagai tokoh yang berkualitas ilahi. Dia adalah firman yang ada sejak semula, yang bersama-sama dengan Allah dan yang adalah Allah – yang menjadi daging dan memasang kemah di antara kita. Selain itu, kalau kita mengacu pada Yoh 7:38-39, saat penyaliban Yesus adalah saat pemuliaan sehingga Dia bisa menyerahkan Roh-Nya.[3] Beberapa gagasan pendukung gagasan teologi Yohanes tentang salib kiranya dapat dirangkum demikian:
Pertama, berdasarkan Yoh 12,33 dan Yoh 18,32 muncullah suatu penegasan bahwa kematian Yesus adalah peninggianNya di kayu salib. Dengan disalib, bumi justeru akan meninggikan Dia! Oleh karena itu, bagi orang beriman, salib Yesus lalu menjadi naiknya Yesus ke tahta kerajaan dengan penuh kemenangan ( hlm 59).
Kedua, dapat dilihat penetapan tulisan ‘Yesus, orang Nazaret raja orang Yahudi”. Tulisan di atas kepala Yesus dikukuhkan oleh Pilatus sebagai sebuah pernyataan kebenaran. Dalam Yoh 19,15, orang Yahudi mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai raja selain Kaisar. Ironisnya, wakil kaisar sendiri yang sekarang memaklumkan seorang raja yang lain yang jauh lebih agung daripada kaisar (bdk, hlm 97 dan diperkuat hlm 73).
Ketiga, di akhir hidupNya, tak seorang pun pengarang Injil menggunakan kata wafat atau mati. Yohanes merumuskan demikian: Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya (harafiah: RohNya). Dengan berdasarkan pada Yoh 10,30 dan Yoh 16,32 maka tafsiran Yohanes bisa dibahasakan demikian: Yesus menundukkan kepalaNya kepada Maria – ibuNya dan murid yang dikasihiNya. Karena Ia dan Bapa adalah satu, Ia menyerahkan Roh-Nya pada Ibu-Nya dan murid yang dikasihiNya. (lihat hlm 128).
Keempat, penikaman lambung Yesus yang mengeluarkan darah dan air disejajarkan dengan kutipan Za 12,10. Kutipan ini mau mengatakan tentang Allah yang mencurahkan Roh sejajar dengan ungkapan darah dan air yang mengalir dari lambung Yesus, yang juga mempunyai makna pencurahan Roh (lihat hlm 148).

Penutup
Salib yang merupakan batu sandungan bagi orang-orang Yahudi maupun suatu kebodohan bagi orang-orang bukan Yahudi ( I Kor 1,23) ternyata menjadi sarana penobatan Yesus sebagai Sang Raja Agung. Dengan salib Kristus, penderitaan manusia dapat mempunyai arti. Kita dapat memaknai penderitaan sekaligus melihatnya dengan mata iman. Salib bukan merupakan suatu tanda kebinasaan, kekalahan dan kehancuran, tetapi justeru menjadi sarana untuk sampai kepada kemuliaan, yaitu suatu kemuliaan yang bukan dari dunia ini. Kiranya makna salib sebagai pemuliaan menjadi suatu dorongan untuk menjadi murid yang dikasihi Yesus.


[1] Secara lebih detail dapat dicermati pada buku Yesus, Orang Nazaret, Raja Orang Yahudi, hlm 129-130)
[2] Kriteria tersebut merupakan rangkuman dari analisa Romo Indra seputar kualitas hidup yang nampak dalam diri Murid yang dikasihi-Nya. Oleh karena itu, dasar dari kriteria murid yang ideal pada Yohanes terletak pada sosok misterius murid yang dikasihi-Nya.
[3] Namun demikian Yohanes juga menempatkan kematian Yesus dalam konteks teologi korban. Dengan memperhatikan Yoh 1,29 dan 19,28 muncul suatu inklusi yang menggambarkan perjanalan Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia melalui wafat-Nya di kayu salib. Dilihat dari perspektif lain Yesus sebagai Anak Domba Paskah yang baru menjadi pemenuhan dan penyempurnaan teologi korban dalam Perjanjian Lama (lihat hlm 121-122). Namun demikian saya lebih menegaskan gagasan dasar teologi Yohanes yang menempatkan penyaliban sebagai pemuliaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar