Kamis, 26 Maret 2009

berdovosi secara kritis

Munculnya berbagai macam tempat ziarah baru di Jawa dewasa ini merupakan fenomena yang menarik. Fenomena ini dibarengi dengan penuhnya tempat-tempat ziarah pada bulan-bulan Maria[i]. Namun kita masih dapat mempertanyakan,” Seberapa banyak orang yang sadar dan tahu betul arti dan tujuan devosi tersebut?” Berapa banyak orang yang tahu persis mengapa ia berdevosi?
Mulai dengan pertanyaan ini, akan dibahas mengenai bagaimana berdevosi secara kritis. Salah satu tokoh yang menarik untuk dipelajari dalam mengangkat tema devosi dengan kritis adalah Anselmus dari Canterbury (1033-1109). Mengapa Anselmus? Salah satu jawaban yang bisa dipertanggung jawabkan tersirat dalam mottonya: fides quarens intellectum (Iman menuntut pengertian). Dalam terang pemikiran Anselmus inilah kita akan mencoba mencari titik terang intelektual dalam berdevosi.
Paper sederhana ini akan disajikan dalam tiga kelompok besar yaitu: pertama, kita akan melihat peran Anselmus dalam panggung sejarah perjalanan iman katolik; kedua, melihat potret devosi di Jawa; dan ketiga, kesimpulan yang mencoba merefleksikan arah penghayatan iman katolik dalam sejarah.

Anselmus: Pemikir Kritis di Tengah Kemapanan Gereja[ii]
Dalam gereja yang sudah tertata dengan rapi, Anselmus boleh dikatakan sebagai perintis pembebasan dari tangan masa lampau yang begitu menekankan hukum dan peraturan. Ia meletakkan dasar studi lanjut gaya benediktin yang bersemboyankan: maju dalam ilmu dan bertumbuh dalam keutamaan. Ia menantang akal budi untuk memahami teks Kitab suci dengan jernih. Dengan pemahaman yang jelas, kita semakin mengerti kebenaran wahyu. Pemikirannya yang jernih membawa Anselmus ke arah perjuangan independensi gereja dan pembaharuan cara hidup klerus.
Di bidang teologi, Ia mengangkat kemerdekaan sebagai tema utama. Anselmus mengajak kita untuk berusaha sungguh-sungguh dalam menghayati dan membahasakan iman dengan merdeka dan dengan segenap budi-hati dan hidup. Usaha menggerakkan budi dilalui dengan metode dialog (dialektika) antara guru dan murid untuk menemukan pengertian yang sejati. Iman akan Allah yang menyapa manusia terus menerus menantang usaha budi manusia supaya kita melampaui diri dan mencari pengertian akan Allah dengan tepat, benar, dan sungguh-sungguh.
Dengan metode teologis “fides quarens intellectum” , kita diajak untuk menemukan dalam penalaran manusia alasan-alasan bagi pokok-pokok yang kita imani. Misalnya Anselmus menawarkan dua permasalah yaitu: siapa Allah dan rahasia penebusan dalam buku Cur Deus Homo? Allah bagi Anselmus dirumuskan sebagai “ Dia yang tidak mungkin dipikirkan, diatasi oleh sesuatupun”. Pertanyaan pokok iman yang kedua berkaitan dengan bagaimana memahami bagaimana Allah menjadi manusia. Menurut Anselmus, kita baru kembali dalam relasi kebebasan dengan Allah, kalau kita berikan apa yang hanya dapat diberikan oleh Allah yaitu kemerdekaan. Hal ini hanya dapat diberikan oleh Yesus Kristus, Allah dan manusia. Dalam kerahiman Allah, kebebasan itu seluruhnya dipulihkan.[iii]
Dengan demikian, Anselmus mengajak umat kristiani untuk memahami imannya supaya semakin beriman. Umat kristiani hendaknya menikmati imannya dengan terang akal budi. Kiranya inilah sumbangan penting Anselmus dalam panggung sejarah Gereja. Untuk semakin mendalami sumbangan Anselmus, kita akan melihat sebuah potret devosi kepada Bunda Maria di Jawa.

Sendangsono: Kembali ke Semangat Awal[iv]
Sebagaimana Anselmus menjadi salah satu penentu di jamannya, demikian juga Sarikromo di “dunia” Sendangsono. Perjalanan katekis Sarikromo yang masih menganut kejawen, mampu mengubah pola lama umat dalam perspektif kristiani tanpa mengaburkan kebudayaan Jawa yang menjadi akar kepribadian. Oleh karena itu, misi awal agama katolik di Jawa dapat dirumuskan demikian. Iman katolik membebaskan umat pertama dari hidup yang lama menuju hidup kristiani tanpa meniadakan kebudayaan mereka. Ini berarti bahwa iman kristiani tidak menghabisi kebudayaan Jawa sebagai dasar kemanusiaan mereka. Iman kristiani tetap memberi ruang, mendengarkan, dan menghormati kebudayaan setempat. Iman kristiani simpati terhadap cara hidup serta menyentuh perasaan yang terdalam. Dengan dinamika perambatan tersebut, iman katolik menghasilkan hidup yang diubah tanpa merasa kehilangan diri.
Penghayatan devosi umat biasanya tidak dapat dilepaskan dari ziarah. Ziarah jaman ini mengalami distorsi makna karena ziarah terkadang dianggap sebagai kebutuhan dan kemauan yang didorong oleh sebuah mitos dan kebiasaan. Oleh karen itu dapat dipahami bahwa ziarah diberi makna sebagai kunjungan di makam kramat atau yang sejenisnya. Melihat keperihatinan ini, Sindunata mengajak kita untuk kembali kepada ajakan Paus yang menempatkan devosi dalam kerangka seluruh gereja yaitu, pertama, devosi harus berinspirasikan Injil; kedua devosi Maria seharusnya berada dalam keharmonisan dengan liturgi gereja (tidak mengecilkan arti liturgi atau devosi tidak memisahkan diri dari liturgi); ketiga, devosi Maria bersifat menyatukan atau ekumenis.
Munculnya gua Maria atau tempat ziarah bertujuan untuk memperdalam iman, bukan untuk mengharapkan mukjijat. Oleh karena itu, gua Maria merupakan tempat hidup rohani dan spiritualitas umat yang dipupuk dengan mencontoh Maria sebagai teladan. Maria menghayati spiritualitas orang kebanyakan dengan menyerahkan diri pada Allah. Sikap iman sederhana ini berarti menerima, memelihara dan memberikan apa yang diterimanya dari Allah. Peran Maria adalah membimbing semua orang pada Putranya.
Kita masih dapat dapat belajar bagaimana penghayatan devosi yang terjadi di Sendangsono. Umat kristen Jawa yang pertama merupakan kawanan tanpa gembala. Dengan kata lain gereja Jawa awal merupakan gereja yang mandiri[v]. Ini berarti bahwa tanpa misionaris yang melayani, mereka mampu menghidupi dan memelihara imannya dengan caranya sendiri. Dengan ini kita diingatkan bahwa inti hidup menggereja adalah ingin seperti Yesus dengan bantuan Roh Kudus. Kristus adalah pusat dan tujuan iman kita; sedangkan Maria adalah teladan utama bagi manusia. Spiritualitas mengandung dua unsur yaitu: eklesial (gerejalah pembentuk spiritualitas) dan pneumatological (Roh Kudus sebagai pendorong).
Devosi kepada Maria tidak lepas dari kata ziarah. Memang salah satu tantangan saat ini adalah bagaimana ziarah terkadang tercampur dengan rekreasi. Padahal ziarah menyadarkan di dunia ini kita sebagai orang asing (homo viator) dengan tujuan penziarahan adalah bertemu dengan Yesus sendiri. Maria adalah pengarah dan arah kepada Yesus sendiri.
Devosi memberi peluang bahwa mukjijat, pertolongan dan penghiburan serta harapan bagi siapa saja yang berdoa melalui Maria. Namun demikian devosi juga memberikan sebuah tantangan. Tantangan ini muncul dari praktek ziarah terkadang ada di tengah paket piknik dan periwisata sehingga mudah mengaburkan, menghilangkan makna dan tujuan devosi kepada Maria sendiri. Kiranya perlu mengadakan refleksi dan pembaharuan terhadap praktek dan ziarah yang kita lakukan secara akal sehat. Johann G. Roten. S. M. merumuskan ziarah demikian:
Pilgrimage leads from profane to sacred; It awakens dan strengthens in us what is called sacramental sensitivity. Pilgrimage here stands for spiritual journey, not only from heteronomy to autonomy but also, and principally, from doubter or spectator to follower in the ways of Jesus Christ. The ultimate goal of Marian devotion lies here: It sharpens our spiritual senses to the voice of him who said,” I am the Way, and the Truth, and the Life.”[vi]

Anselmus dan Tokoh Sejarah Gereja yang Lain: Semakin Beriman dalam Konteks Jaman
Sejarah doktrin gereja menawarkan bagaimana penghayatan iman dan ekspressinya dalam konteks jamanya. Kiranya ada dua pokok yang ditawarkan oleh tokoh-tokoh tersebut, yaitu: pertama, bagaimana umat kristiani semakin beriman dan kedua, bagimana mereka memahami, menghayati dan menikmatnya sesuai dengan konteks jaman yang bersangkutan. Secara garis besar, kita dapat melihat bagaimana Anselmus memahami imannya dengan akal budi dan menikmatinya dalam terang akal sehat. Dengan demikian kita diajak untuk semakin memahami dan menikmati imannya.
Dalam konteks zaman ini, kita juga diajak untuk merenungkan kembali perjalanan iman umat yang terekam dalam salah satu fenomena devosi kepada Maria.










[i] Fenomena ini juga disinyalir oleh Norbert Brockman, SM yang adalah direktur hubungan internasional dan asosiasi professor ilmu politik di universitas Santa Maria, Texas. Ia melihat meningkatnya tour rohani yang melanda Eropa, terutama karena dipengaruhi sistem transportasi yang baik. Dengan maraknya tour rohani ini, ia menilai bahwa ada pergeseran pemaknaan dari arti sebuah “perjalanan” ke arti pentingnya “tempat”.( Norbert Brockman, S.M, Marian Pilgrimage at the Millennium: renewal or tourism dalam Majalah Marian Studies Volume LI : With the Mother of the Lord: On Pilgrimage to the New Millenium, Ohio, MSA Secretariat : The Marian Library University of Dayton, 2000 hlm 107.
[ii] Bagian pembahasan mengenai Anselmus berdasarkan pada diktat yang digunakan P. Bernard Kieser dalam mata kuliah Sejarah Doktrin Gereja. (Lihat Bernard Kieser, Sejarah Dokrin Gereja, Yogyakarta: Fakultas Teologi Sanata Dharma, 2004 hlm 78-92.
[iii] Jasper Hopkins dan Herbert W. Richardson menempatkan penebusan dalam kaca mata Anselmus dengan rumusan demikian: wafat kristus sebagai penegakkan kembali kehormatan kepada Allah darapada sebuah pembayaran tebusan kepada Setan. (bdk: Jasper Hopkins dan Herbert W. Richardson, Anselm of Canterbury: Trinity, Incarnation and Redemption Theological Treatise, New York, Evanston and London: Harper Torchbooks, Harper& Row, Publishers, 1970 hlm xiv
[iv] Bagian ini merupakan rangkuman dari pemikiran Sindunata yang menjadi bagian dalam diktat Sejarah doktrin Gereja hlm 2007-217. Teks asli dapat ditemukan dalam G.P. Sindhunata SJ (ed), Mengasih Maria, Seratus Tahun Sendang sono, Yogyakarta 2004, hal 163 –185.
[v] Mandiri di sini tidak berarti melepaskan diri dari Imam dan hirarki: mandiri berarti bahwa kaum awam mampu menghidupi gereja tanpa terlalu mengharap dan menggantungkan diri pada para imam dan hirarki, seperti yang telah diteladankan oleh umat dari gereja katolik awal di sekitar Sendangsono seratus tahun lalu. Tantangan ini sungguh patut kita renungkan, mengingat di masa depan kemandirian akan menjadi tantangan yang serius bagi gereja di Indonesia. Soalnya, jelas terbaca di masa depan tenaga imam tidak akan tersedia sebanyak seperti kita impikan, sementara gereja terus berkembang dengan amat pesat.
[vi]Lihat, Johann G. Roten. S.M, Marian Devotion for the New Millennium dalam Majalah Marian Studies Volume LI : With the Mother of the Lord: On Pilgrimage to the New Millenium, Ohio, MSA Secretariat : The Marian Library University of Dayton, 2000 hlm 81

Tidak ada komentar:

Posting Komentar